Rabu, 09 Juni 2021

KULTUR SEKOLAH

 

Nama: Wahyu Sri Rizqi

NIM: 11901347

Kelas: PAI/4C

Makul: Magang 1 (Laporan Bacaan)

 

KULTUR SEKOLAH

Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik diantara para anggotanya. Sekolah adalah suatu institusi yang terdapat komponen guru, siswa, dan staf administrasi di dalamnya dan masing-masing mempunyai tugas tertentu untuk melancarkan program sekolah. Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah dituntut untuk dapat menghasilkan lulusan yang mempunyai kemampuan akademis tertentu, ketrampilan, sikap dan mental, serta kepribadian lainnya sehingga siswa-siswa dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja pada lapangan pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan ketrampilan yang telah mereka miliki. Sekolah mempunyai kultur yang harus dipahami dan dilibatkan agar perubahan yang terjadi bisa berlangsung terus menerus. Karena melalui kultur sekolah yang baik, sekolah tersebut bisa berkembang menjadi sebuah sekolah yang efektif dan terstuktur.

Kata Kultur berasal dari bahasa Inggris “culture” yang berarti budaya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur artinya kebudayaaan. Koentjaraningrat (1983: 184) menyatakan bahwa kebudayaan atau budaya mempunyai tiga macam wujud, yaitu yang pertama kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, norma atau peraturan, kedua, kebudayaan sebagai aktivitas atau tindakan manusia yang berpola sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat dan yang ketiga kebudayaan adalah sebagai hasil karya. Dilihat dari pendapat tersebut  dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya atau kultur mengandung pengertian dalam istilah yang populer dan istilah teknis. Kultur sekolah menekankan tentang pentingya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah dan realitas sosial.

A.    Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yaitu berupa situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi secara efektif dan efisien. Karena tidak ada satu definisi baku tentang budaya, maka juga tidak ada definisi baku tentang kultur sekolah. Dari berbagai definisi tentang budaya, Zamroni merumuskan pengertian kultur sekolah adalah pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang di sekolah, yang dimana kultur sekolah dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar bagi mereka dalam memahami dan mencari solusi dari berbagai persoalan yang timbul di sekolah.

Kultur sekolah dapat juga dijelaskan sebagai nilai, persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan memiliki unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu lembaga sekolah. Budaya sekolah adalah jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari masa ke masa oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Budaya memiliki dampak yang kuat bagi kinerja dan membentuk bagaimana cara orang berpikir, bertindak, dan merasa. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah bagi dalam mempromosikan staf dan belajar siswa di suatu sekolah.

Kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak atau non-material hingga yang konkrit atau material, yaitu yang pertama nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah. Kedua, pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi. Ketiga, kurikulum sekolah yang berisi beberapa agasan maupun fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan. Dan yang keempat adalah letak, lingkungan, sarana dan prasarana fisik sekolah yaitu gedung sekolah dan perlengkapan lainnya.

Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi, oleh karena itu sekolah harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas/unik. Kebudayaan sekolah bisa terjadi karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi ini, maka berkembanglah perilaku khas sebagai siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara-upacara. Penyebab lain dari munculnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yaitu mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum menggunakan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah tersebut.

Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah. Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.

kultur sekolah diartikan sebagai kualitas internal, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh semua orang di lingkungan sekolah. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah hampir sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah juga dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lain sehingga menjadi tradisi sekolah.

 

B.     Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif.

Kultur sekolah bersifat dinamis, perubahan pola perilaku dari kultur sekolah dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku, bahkan mengubah sistem asumsi yang ada walaupun sulit. Tapi dinamika kultur sekolah juga dapat menghadirkan konflik dan jika bisa ditangani dengan bijak dan sehat maka akan membawa perubahan positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun dalam membentuk kultur sekolah. Kultur sekolah adalah budaya dalam kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapat merubah pola perilaku warga dan lingkungan sekolah.

 

C.    Identifikasi Kultur Sekolah

Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak teramati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama budaya berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah dan biasa disebut artifak.

Lapisan kedua berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Lapisan pertama yang berintikan norma-norma perilaku sukar diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah dan memerlukan waktu untuk mengubah.

Sedangkan Stolp dan Smith dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 8-10) membagi tiga lapisan kultur yaitu artifak di permukaan, nilai-nilai keyakinan di tengah, dan asumsi di dasar. Artifak adalah lapisan kultur sekolah yang segera dan paling mudah diamati seperti aneka hal ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur ini dengan cepat dapat dirasakan ketika orang mengadakan kontak dengan suatu sekolah. Lapisan kultur sekolah yang lebih dalam berupa nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang ada di sekolah. Hal ini menjadi ciri utama suatu sekolah. Sebagian berupa norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah seperti ungkapan rajin pangkal pandai, air beriak tanda tak dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lainnya. Lapisan paling dalam kultur sekolah adalah asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang tidak dapat dikenali tetapi terus menerus berdampak terhadap perilaku warga sekolah.

 

D.    Peran Kepala Sekolah Dalam Membangun Kultur Sekolah

Peran Kepala Sekolah Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga memperhatikan masalah politis, kultural, dan perubahan sosial yang berlangsung.

Kepala sekolah berusaha keras untuk menciptakan kultur kolaboratif di kalangan komunitas sekolah termasuk guru, staf siswa, orang tua, dan komite sekolah. dalam hal itu, ia melakukan koordinasi dengan mereka dalam membuat keputusan dan mengimplementasikan program-program sekolah. Kepala sekolah sebagai sentral pengembangan kultur sekolah harus dapat mejadi contoh dalam berinteraksi di sekolah. Ia adalah figur yang memiliki komitmen terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan, dan selalu bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, ramah, dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu, kepala sekolah merupakan contoh bagi warga sekolah.

Untuk membangun kultur, kepala sekolah harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tak tampak dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah. Tugas kepala sekolah adalah menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur yang diperlukan untuk menguatkan sikap yang efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah. apabila sikap ini timbul dan didukung oleh kultur, semua aspek lain akan berjalan beriringan. Oleh karena itu, pembangunan kultur merupakan kunci kesuksesan dari suatu organisasi.

Sumber:

Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Universitas Islam Negeri Mataram. Volume 6, Nomor 2 : Agustus 2018.

Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.1 , Mei 2013. Oleh Ariefa Efianingrum (staf pengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar