Nama:
Wahyu Sri Rizqi
NIM:
11901347
Kelas:
PAI/4C
Makul:
Magang 1 (Laporan Bacaan)
KULTUR SEKOLAH
Sekolah merupakan sistem sosial yang
mempunyai organisasi yang unik diantara para anggotanya. Sekolah adalah suatu
institusi yang terdapat komponen guru, siswa, dan staf administrasi di dalamnya
dan masing-masing mempunyai tugas tertentu untuk melancarkan program sekolah.
Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah dituntut untuk dapat menghasilkan
lulusan yang mempunyai kemampuan akademis tertentu, ketrampilan, sikap dan
mental, serta kepribadian lainnya sehingga siswa-siswa dapat melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja pada lapangan pekerjaan yang
membutuhkan keahlian dan ketrampilan yang telah mereka miliki. Sekolah
mempunyai kultur yang harus dipahami dan dilibatkan agar perubahan yang terjadi
bisa berlangsung terus menerus. Karena melalui kultur sekolah yang baik,
sekolah tersebut bisa berkembang menjadi sebuah sekolah yang efektif dan
terstuktur.
Kata Kultur berasal dari bahasa Inggris
“culture” yang berarti budaya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur
artinya kebudayaaan. Koentjaraningrat (1983: 184) menyatakan bahwa kebudayaan
atau budaya mempunyai tiga macam wujud, yaitu yang pertama kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, norma atau
peraturan, kedua, kebudayaan sebagai
aktivitas atau tindakan manusia yang berpola sebagai rangkaian aktivitas
manusia dalam suatu masyarakat dan yang ketiga
kebudayaan adalah sebagai hasil karya. Dilihat dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya atau
kultur mengandung pengertian dalam istilah yang populer dan istilah teknis.
Kultur sekolah menekankan tentang pentingya kesatuan, stabilitas, dan harmoni
sosial pada sekolah dan realitas sosial.
A.
Pengertian
Kultur Sekolah
Menurut Zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia
pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yaitu berupa
situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu
proses produksi secara efektif dan efisien. Karena tidak ada satu definisi baku
tentang budaya, maka juga tidak ada definisi baku tentang kultur sekolah. Dari berbagai
definisi tentang budaya, Zamroni merumuskan pengertian kultur sekolah adalah
pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan
yang terbentuk dalam perjalanan panjang di sekolah, yang dimana kultur sekolah
dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar bagi
mereka dalam memahami dan mencari solusi dari berbagai persoalan yang timbul di
sekolah.
Kultur sekolah dapat juga dijelaskan sebagai nilai,
persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur
dan memiliki unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan,
sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu
lembaga sekolah. Budaya sekolah adalah jaringan tradisi dan ritual yang
kompleks, yang telah dibangun dari masa ke masa oleh guru, siswa, orangtua, dan
administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Budaya memiliki
dampak yang kuat bagi kinerja dan membentuk bagaimana cara orang berpikir,
bertindak, dan merasa. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci
keberhasilan sekolah bagi dalam mempromosikan staf dan belajar siswa di suatu
sekolah.
Kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai
dari yang abstrak atau non-material hingga yang konkrit atau material, yaitu
yang pertama nilai-nilai moral,
sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah. Kedua, pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri
atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi. Ketiga, kurikulum sekolah yang berisi
beberapa agasan maupun fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan. Dan
yang keempat adalah letak,
lingkungan, sarana dan prasarana fisik sekolah yaitu gedung sekolah dan
perlengkapan lainnya.
Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam
menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi, oleh karena itu sekolah
harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Kebudayaan
sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai
ciri-ciri yang khas/unik. Kebudayaan sekolah bisa terjadi karena sebagian besar
dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi ini, maka berkembanglah
perilaku khas sebagai siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan,
serta upacara-upacara. Penyebab lain dari munculnya kebudayaan sekolah adalah
tugas sekolah yang khas yaitu mendidik anak melalui penyampaian sejumlah
pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai
dengan kurikulum menggunakan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di
sekolah tersebut.
Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah
terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan
karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah
juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung
kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah. Jadi dalam hal ini budaya
atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap
menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah,
dan realitas sosial. Budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam
merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan
sekolah.
kultur sekolah diartikan sebagai kualitas internal,
lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh semua orang di
lingkungan sekolah. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks
persekolahan, sehingga kultur sekolah hampir sama dengan kultur organisasi
pendidikan. Kultur sekolah juga dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan
sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai
sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana
kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan
berhubungan satu sama lain sehingga menjadi tradisi sekolah.
B.
Karakteristik
Kultur Sekolah
Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah,
kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat,
dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri
tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat
memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja
secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan
mampu terus berkembang. Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan
oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga
antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat
secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah
sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah
dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat
dapat membawa perubahan yang positif.
Kultur sekolah bersifat dinamis, perubahan pola
perilaku dari kultur sekolah dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku,
bahkan mengubah sistem asumsi yang ada walaupun sulit. Tapi dinamika kultur
sekolah juga dapat menghadirkan konflik dan jika bisa ditangani dengan bijak
dan sehat maka akan membawa perubahan positif. Kultur sekolah itu milik kolektif
dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang
masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan
aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur
kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan
konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai
yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegiatan yang
jelas perlu disusun dalam membentuk kultur sekolah. Kultur sekolah adalah
budaya dalam kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapat
merubah pola perilaku warga dan lingkungan sekolah.
C.
Identifikasi
Kultur Sekolah
Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah
Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan.
Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak teramati seperti:
arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas,
peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo,
slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan
yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang
tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama
budaya berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang
telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah dan biasa disebut artifak.
Lapisan kedua berupa nilai-nilai bersama yang dianut
kelompok berhubungan dengan apa yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini
tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Lapisan pertama
yang berintikan norma-norma perilaku sukar diubah, maka lapisan kedua yang
berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah dan memerlukan waktu
untuk mengubah.
Sedangkan Stolp dan Smith dalam (Depdiknas Direktorat
Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 8-10) membagi tiga lapisan kultur yaitu
artifak di permukaan, nilai-nilai keyakinan di tengah, dan asumsi di dasar.
Artifak adalah lapisan kultur sekolah yang segera dan paling mudah diamati
seperti aneka hal ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda
simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah.
Keberadaan kultur ini dengan cepat dapat dirasakan ketika orang mengadakan
kontak dengan suatu sekolah. Lapisan kultur sekolah yang lebih dalam berupa
nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang ada di sekolah. Hal ini menjadi ciri
utama suatu sekolah. Sebagian berupa norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah
seperti ungkapan rajin pangkal pandai, air beriak tanda tak dalam, dan berbagai
penggambaran nilai dan keyakinan lainnya. Lapisan paling dalam kultur sekolah
adalah asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan
yang tidak dapat dikenali tetapi terus menerus berdampak terhadap perilaku
warga sekolah.
D.
Peran
Kepala Sekolah Dalam Membangun Kultur Sekolah
Peran Kepala Sekolah Para pemimpin di dunia pendidikan
harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap
kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang
berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga
memperhatikan masalah politis, kultural, dan perubahan sosial yang berlangsung.
Kepala sekolah berusaha keras untuk menciptakan kultur
kolaboratif di kalangan komunitas sekolah termasuk guru, staf siswa, orang tua,
dan komite sekolah. dalam hal itu, ia melakukan koordinasi dengan mereka dalam
membuat keputusan dan mengimplementasikan program-program sekolah. Kepala
sekolah sebagai sentral pengembangan kultur sekolah harus dapat mejadi contoh
dalam berinteraksi di sekolah. Ia adalah figur yang memiliki komitmen terhadap
tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan, dan selalu bermusyawarah dalam
membuat kebijakan sekolah, ramah, dan menghargai pendapat orang lain. Selain
itu, kepala sekolah merupakan contoh bagi warga sekolah.
Untuk membangun kultur, kepala sekolah harus memberi
perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tak tampak
dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga
sekolah. Tugas kepala sekolah adalah menciptakan atau membentuk dan mendukung
kultur yang diperlukan untuk menguatkan sikap yang efektif dalam segala hal
yang dikerjakan di sekolah. apabila sikap ini timbul dan didukung oleh kultur,
semua aspek lain akan berjalan beriringan. Oleh karena itu, pembangunan kultur
merupakan kunci kesuksesan dari suatu organisasi.
Sumber:
Jurnal
Manajemen Pendidikan Islam. Universitas Islam Negeri Mataram. Volume 6, Nomor 2
: Agustus 2018.
Jurnal
Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.1 , Mei 2013. Oleh Ariefa Efianingrum (staf
pengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar